Haramnya Mengumpulkan antara Seorang Wanita dengan Bibinya (Hadis ke-301)

الحديث الواحد بعد الثلاثمائة

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا

Hadis ke-301

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw., ‘Tidak dikumpulkan antara seorang wanita dengan saudari ayahnya, dan tidak dikumpulkan antara seorang wanita dengan saudari ibunya’.”

Penjelasan Hadis

Syariat yang suci ini datang dengan membawa segala perkara yang mengandung kebaikan dan memerangi segala perkara yang mengandung bahaya dan kerusakan. Di antara contoh hal itu, bahwa syariat ini mendorong manusia untuk hidup harmonis, saling mencintai, dan menyayangi. Sebaliknya, syariat ini melarang dari sikap-sikap saling menjauh, memutuskan hubungan silaturahim, dan saling membenci. Tatkala syariat ini memperbolehkan seseorang untuk berpoligami, yang mana terkadang dalam hal tersebut ada kemaslahatan yang bisa didapat, namun di sisi lain sering juga melahirkan rasa permusuhan dan kebencian di antara para istri disebabkan rasa cemburu, maka syariat melarang poligami ini dilakukan di antara wanita yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Hal tersebut dikarenakan pada yang demikian dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya putus hubungan silaturahim di antara wanita-wanita yang masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Oleh karena itu, syariat melarang seseorang untuk menikahi saudari istrinya (untuk dipoligami dengan istrinya), sebagaimana syariat juga melarang seseorang untuk menikahi bibi istrinya, maupun keponakan istrinya (untuk dipoligami dengan istrinya). Karena hubungan antara kakak dengan adik, atau bibi dengan keponakan adalah hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Kalaulah ditakdirkan salah satunya laki-laki dan lainnya perempuan, maka mereka akan diharamkan untuk menikahi satu sama lain, yang keharamannya disebabkan faktor nasab.

Hadis ini juga mengkhususkan keumuman firman Allah:

وأحِلَّ لكم ما وَرَاءَ ذلِكم

Dan dihalalkan bagimu (untuk menikahi wanita-wanita) selain itu. (QS An-Nisa [4]: 24)

Ayat ini datang dalam bentuk umum, bahwa wanita-wanita selain yang disebutkan dalam ayat surat An-Nisa ayat 22-24 halal untuk dinikahi. Sementara dalam ayat-ayat tersebut tidak menyinggung tentang haramnya mengumpulkan antara seorang wanita dengan bibinya, baik itu saudari ayahnya ataupun saudari ibunya. Sehingga apabila kita berpegang dengan keumuman ayat tersebut, maka seolah-olah mengumpulkan antara bibi dengan keponakannya (menikahi kedua-duanya) adalah boleh. Namun keumuman ayat tersebut dikhususkan/dibatasi dengan hadis ini, sehingga disimpulkan bahwa walau tidak disebutkan dalam ayat al-Qur’an, namun praktek mengumpulkan seorang bibi dengan keponakannya dalam pernikahan adalah diharamkan berdasarkan hadis ini. Dan yang demikian ini juga termasuk dalil tentang bolehnya men-takhshish dalil al-Qur’an dengan hadis āhād (hadis yang tidak mencapati derajat mutawātir), yang mana hal ini pembahasannya terdapat dalam kajian ilmu ushul fiqh.

Wallahu a’lam

Referensi:
Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Ahkām karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam
Syarh Kitab Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Ahkam (audio ceramah) Syaikh Abdurrahman Al-Ajlan (link sumber)

Penulis: Fadhly Abu al-Fatih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s